![]() |
| Sumber foto: Tempo |
PembebasanBandung,
21 Januari 2017—Film Istirahatlah
Kata-Kata yang mengisahkan pelarian Wiji Thukul, seorang penyair-aktivis
pejuang demokrasi yang diburu rezim Orde Baru, resmi diputar serentak pada hari
Kamis (19/1) di beberapa kota besar di Indonesia.
Film
ini berkisah tentang segala hal yang Thukul alami selama masa pelariannya di
Pontianak. Thukul diburu karena aktivitasnya sebagai anggota Partai Rakyat
Demokratik (PRD), sebuah partai revolusioner yang dituduh rezim Orde Baru
sebagai dalang atas peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996. Saat itu Thukul memang
dikenal sebagi seniman dengan visi kerakyatan. Ia kerap menulis puisi-puisi
agitasi yang sarat akan pesan perlawanan terhadap tirani kapitalis-militeristik
Orde Baru di bawah kekuasaan Soeharto.
Dikisahkan
pula dalam film itu bagaimana istri dan anak-anak sang penyair kerap didatangi
dan diinterogasi oleh aparat guna mencari tahu aktivitas dan keberadaan Thukul.
Tokoh Wiji Thukul sendiri diperankan oleh Gunawan Maryanto. Sementara tokoh
Sipon, istri Thukul, diperankan oleh Marissa Anita.
Istirahatlah Kata-Kata diputar
serentak di 15 kota di Indonesia. Ciwalk XXI Bandung menjadi salah satu bioskop
yang turut memutar film garapan sutradara Yosep Anggi Noen tersebut. Dengan berbagai
penghargaan yang diterima sebelumnya, praktis membuat publik tak sabar untuk
segera menyaksikan film ini. Tak ayal ketika pertama kali diputar, Istirahatlah Kata-Kata langsung mendapat
respons luar biasa dari publik. Tiket ludes terjual sebelum jam tayang. Di
Bandung sendiri tiket untuk jam tayang pukul 14.00 sudah habis terjual pada
pukul 12.00. Bahkan tak sedikit pula yang harus gigit jari karena tak kebagian
tiket.
Solidaritas
Rakyat untuk Demokrasi (SORAK) mendapat kesempatan untuk bersama-sama menyaksikan
film yang telah mendapatkan penghargaan dari banyak lembaga, juga memenangkan
sejumlah festival film luar negeri ini.
“Film
ini bagus agar kita tetap mengingat bahwa kasus hilangnya Thukul ini belum
tuntas,” ujar Asri Vidya, salah seorang aktivis SORAK.
Asri
menambahkan bahwa film ini akan memberikan kesadaran kepada kelas menengah.
Sehingga diharapkan bisa menjadi percikan api untuk menuntut penuntasan kasus
hilangnya aktivis-aktivis ’98.
“Di
dalam film Istirahatlah Kata-Kata
ini, jangan lupa, bahwa di balik setiap kontroversi, ada mereka-mereka yang
dihilangkan secara paksa dan belum kembali hingga saat ini. Untuk itu, suara
kita semua, butuh lebih lantang: kembalikan mereka!" tukas Asri.
Sementara
itu menurut Abbdul Majid (21), film ini secara visi memang untuk menjelaskan
sisi lain dari Wiji Thukul yang terpukul karena menjadi buronan pemerintah.
"Ya,
cukup menggambarkan terpukulnya seorang aktivis yang diterpa sepi hening dan
waswas,”katanya.
Tapi
di sisi lain, tambah Abdul, ada sedikit kekecewaan karena konflik atau
aktivitas dia di gerakan perlawanan tidak ditampilkan.
"Harapannya
usai menyaksikan film ini adalah agar pemerintah serius menindaklanjuti bahkan
menyelesaikan perkara aktivis yg hilang secara objektif, dan kepada publik lain
yang menonton agar kepeduliannya membesar terkait ikut serta mendorong kepada
pemerintah agar menyelesaikan kasus hilangnya Wiji dan aktivis-aktivis lain,”
lanjut mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati itu.
Usai
mendapat respon yang luar biasa pada hari pertama pemutaran. Rencananya akan
ada penambahan jam tayang dan tempat pemutaran. Khusus di Bandung, pemutaran
yang sebelumnya hanya ada di Ciwalk XXI, akan bertambah dengan dibukanya
pemutaran di BTC XXI.
Kata-kata
Thukul sejatinya takkan pernah beristirahat. Ia terus hidup, bergeriliya, di
dalam sanubari tiap-tiap mereka yang dianiaya oleh tirani.
Puisi dan Perjuangan Politik
Wiji
Thukul melakukan perlawanan politik dengan penuh keberanian, bukan sekedar
sebagai seniman atau penyair. Memang, dalam filmnya, tidak diangkat kiprah
perjuangannya dalam sebuah partai politik yang melandaskan kekuatannya pada
massa Rakyat. Thukul pun terlibat dalam kerja-kerja pengorganisiran,
radikalisasi massa buruh.
Soal
Wiji Thukul, ada yang sepi dari perbincangan tentangnya. Wiji adalah penyair,
aktivis radikal, bernyali. Bayangkan, zaman rezim Orde Baru, dia sudah berani
aksi massa menentang perusakan lingkungan oleh PT. Sritex.
Wiji
Thukul juga punya kesadaran berorganisasi, bahkan, sudah pada level terlibat
membangun partai politik (PRD), saat kesadaran membangun partai revolusioner
(berwatak kelas) adalah konsekuensi konsep Leninis.
Thukul
mengorganisir massa, dengan bekal seninya, dia mengajarkan buruh berteater,
juga puisi. Partai tempat Thukul berada adalah tipe organisasi yang militan,
perspektifnya maju. Zaman Orde Baru, saat demokrasi tidak bisa hidup—mendirikan
partai politik dilarang, berorganisasi pun sama, selain organisasi yang
berasaskan Pancasila—partai dan organisasi Thukul berani mendeklarasikan diri
sebagai partai politik berasaskan sosialis-demokrasi-kerakyatan, dan mengatakan
bahwa demokrasi harus dibuka, demokrasi multi-partai, cabut dwi fungsi ABRI,
pencabutan 5 paket UU politik, hingga akhirnya mengkristal pada tuntutan
terpenting yaitu penggulingan kekuasaan Soeharto.
Orang-orang
muda yang bergabung dalam partai dan organisasi revolusioner itu begitu
bernyali, berperspektif maju, seperti yang tertulis dalam penggalan manifesto
partainya waktu itu: "Problem-problem masyarakat Indonesia yang
kapitalistik ini harus diselesaikan, tidak bisa tidak, harus dengan suatu
partisipasi rakyat yang harus semakin meluas: dengan demokrasi. Berbagai
kekuatan yang mungkin membawa perbaikan politik harus sesegera mungkin
menyatukan langkah dan program-programnya untuk membentuk suatu pemeritahan
yang demokratik kerakyatan."
"Suatu
pemerintahan yang berwatak demokratik dan kerakyatan haruslah mempunyai
kekuatan arah kemilau masa depan yang jelas tentang masyarakat Indonesia, serta
jalan keluar bagi persoalan ekonomi, politik dan budayanya—yang selama 30
tahun, delapan bulan, dan duapuluh hari, ditanam dengan pupuk-bangkai dan
air-darah rakyat."
Irfan Pradana
*Tulisan ini sudah dilengkapi atas saran redaksi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar