![]() |
| Zulfi sedang memaparkan materi dalam DikPol Pembebasan Bandung yang diselenggarakan di Padalarang. |
SUARA ADZAN MENGUAR
menyusur lorong gelap, merambati tembok pondokan, menabrak sudut-sudut ruangan,
pecah, lalu masuk ke tiga belas pasang gendang telinga manusia di dalamnya. Di
sela-sela adzan itu terdengar gonggong anjing bersahutan, berlomba-lomba dengan
muadzin yang diperlantang oleh corong pengeras suara. Listrik tiba-tiba padam.
Makin adil juga maghrib itu. Muadzin dan anjing berlaga tanpa teknologi. Dan
tahulah yang terjadi: gonggongan telah membuat seruan buat menyembah itu kalah.
Di pondokan berukuran
kira-kira lima kali lima meter, dua di antara pemilik tiga belas pasang gendang
telinga itu beranjak dari duduknya dan menyalakan lilin. Tak ada dari mereka
yang menuju surau. Bukan karena mereka ogah pada doa, atau sembah, tapi karena
mereka percaya, doa dan sembah saja tak pernah cukup bagi manusia untuk
mengubah nasibnya. Mereka percaya pada mulanya nasib manusia itu indah. Mereka
yakin betul Tuhan tak akan pernah membuat sengsara makhluknya.
Manusialah--sambil menyalahkan dan menunjuk-nunjuk muka setan--yang melakukan itu.
Segelintir manusia yang culas, dengan hati yang dekil, telah membuat semuanya
jadi berantakan.
Untuk itu mereka
selalu ingat; sama sekali tak perlu bantuan ilahiah untuk menjadi manusia yang
culas, dan tak perlu juga bantuan yang ilahiah untuk mengubah manusia menjadi
baik dan mampu untuk mengembalikan nasib jadi indah.
Tapi niat, kawan, niat
manusia untuk berbondong-bondong menghaturkan doa dan sembah pada pemberi
hidup, sepenuhnya menyerahkan nasib, amat sulit untuk dibuat kalah.
Lamat-lamat, lewat lorong gelap itu juga, terdengar gesekan sandal menuju
surau, juga gemericik yang berjeda: suara orang mengambil wudhu.
Tentu niat itu tidak
salah. Akan tetapi bisa menjadi salah bila doa dan sembah itu tak dibarengi
dengan kerja-kerja, perjuangan nyata manusia untuk mengubah nasibnya. Berhenti
menunjuk muka setan-setan yang barangkali tak punya salah, berpaling, dan
mengepalkan tinju pada muka segelintir mereka yang culas dan dekil hatinya.
Menunjukkan kebobrokan berpikir mereka yang telah menghambat bahkan memundurkan
peradaban manusia. Sampah-sampah yang membuat kotor nasib manusia.
Hal itulah yang sedang
berusaha diingatkan lagi oleh seorang pemuda berwajah tirus, berambut panjang
dan memakai kacamata ke benak pemilik dua belas pasang gendang telinga.
Menghadap ke papan, diterangi cahaya lilin yang berpendar. Matanya nanar
melihat ketidakadilan diciptakan. Di sebelah kanannya bertumpuk tulisan yang
mengungkap borok-borok peradaban.
Namanya Uga Kumito. Ia
kawanku. Tentu bukan nama asli. Ia pakai nama koordinasi untuk alasan keamanan,
yang diambilnya dari bahasa Suku Meh yang hidup di tanah Papua. Seorang
mahasiswa; bukan agen perubahan, bukan juga agen kontrol sosial yang berjarak
dengan rakyat. Yang berlaku bak dewa penolong hendak mengentaskan rakyat dari
ketertindasannya dengan gelar maha yang dimilikinya. Ia bukan mahasiswa seperti
itu. "Mahasiswa tak boleh berjarak dengan rakyat," katanya.
Di tengah peradaban
penuh kebusukan ini, beruntunglah aku mengenalnya. Pemuda yang baik,
betul-betul baik; yang bergerak, yang menyadarkan dan berjuang dalam barisan
massa rakyat. Belakangan ini aku makin tahu ke mana arah cita-cita juangnya;
menjadi kombatan, mengangkat senjata dan merebut kekuasaan dari segelintir
manusia culas dan berhati dekil. Merebut kuasa dari mereka yang merusak dunia,
meracuni peradaban manusia dengan menciptakan budaya yang penuh mudharat,
budaya yang menyuruh manusia ikhlas ketika dihisap, yang memaksa manusia
menghaturkan sembah ketika diperbudak, budaya yang menginjak martabat manusia,
menunduk di hadapan penguasa yang menindas.
Sekali lagi, mesti
diakui kalau aku beruntung mengenalnya. Kepada Kawan-kawannya ia selalu
ingatkan: sayangi Kawanmu.
Ia pemuda yang
menyayangi rakyat, menyayangi buruh, buruh tani--mereka yang tak memiliki alat
produksi. Mendukung rakyat Papua untuk menentukan nasibnya sendiri. Mengutuk
militer yang justru memerangi rakyatnya sendiri. Ia pemuda yang telah
memproklamirkan diri untuk tidak pernah sekali pun menyakiti perempuan, apalagi
menindas mereka, dan berjanji untuk mendukung kemajuan mereka, yang berarti
juga adalah kemajuan bagi peradaban umat manusia.
Sungguhlah, peradaban
manusia masih bisa maju jika banyak pemuda seperti dia. Akan terwujud peradaban
manusia yang bergerak maju tanpa perlu merusak alam dan menghisap hasil kerja
manusia lain.
Di temaram cahaya
lilin itu ia berbisik, "Yang culas akan mati. Perjuangan abadi."
Edo W. Adityawarman

"Mahasiswa tidak boleh berjarak dengan rakyat"
BalasHapusBerarti mahasiswa bukan rakyat dong?