![]() |
| Foto oleh Irfan |
26 juli 2016 di pagi hari yang biasa
saja warga Jalan Stasiun Barat, Bandung, dikejutkan oleh kedatangan sekitar
1500-an aparat gabungan (Polsuska, Polisi, Tentara, dan Satpol PP) bersama 3
ekskavator untuk meratakan bangunan milik warga. Ketika itu warga yang
mayoritas bermata pencaharian sebagai pedagang tengah bersiap melakukan
aktivitas sehari-harinya. Tidak ada pemberitahuan sama sekali sebelumnya bahwa
saat itu akan dilakukan penggusuran. Walhasil, warga yang kalah jumlah dengan
aparat harus menerima kenyataan pahit pada saat satu persatu bangunan yang
telah mereka tinggali selama puluhan tahun harus rata dengan tanah.
Selang beberapa minggu kemudian, sebuah
media online merilis berita yang intinya
menjelaskan bahwa penggusuran di Stasiun Barat berdampak kepada berkurangnya
praktik prostitusi di daerah tersebut. Namun benarkah demikian? Benarkah
praktik esek-esek telah lenyap karena adanya penggusuran? Jawabannya adalah
tidak.
Praktik-praktik prostitusi masih
berlangsung hingga saat ini. Para PSK (Pekerja Seks Komersil) tetap bisa
menjalankan profesinya meskipun bangunan-bangunan sebelumnya telah lenyap.
Malah bisa dikatakan bahwa praktik ini semakin besar paska penggusuran. Kenapa
hal ini bisa terjadi? Karena sebetulnya para PSK di Stasiun Barat kebanyakan
adalah pendatang atau bukan penghuni asli dari Stasiun Barat. Mereka datang
dari segala penjuru Kota Bandung. Di antaranya ada PSK berinisial D yang
berasal dari Cijerah lalu ada A yang berasal dari Cililin.
Kenyataan ini menunjukan bahwa penguasa
kerap kali menggunakan prostitusi sebagai dalih untuk merampas lahan
penghidupan Rakyat. Hal ini terjadi tidak hanya si Stasiun Barat. Februari lalu
kejadian serupa juga terjadi di kawasan Kalijodo, Jakarta. Pemprov DKI berdalih
bahwa penggusuran dilakukan demi melenyapkan praktik mesum sekaligus untuk
membuat lahan terbuka hijau di kawasan tersebut.
Negara dalam hal ini pemerintah seakan
lupa bahwa mereka sendirilah yang telah menciptakan praktik-praktik prostitusi.
Mereka alfa bahwa ketidakbecusannya dalam mengurus negara inilah yang telah
memaksa banyak perempuan rela menjajakan tubuhnya demi menjaga dapurnya agar
tetap ngebul, dan demi anaknya agar tetap dapat bersekolah. Lalu negara dengan
kejinya menjadikan mereka alasan untuk merampas hak hidup Rakyat yang lain.
Irfan Perdana

Tidak ada komentar:
Posting Komentar