Front SORAK Bandung bersama Filep Karma. ★

Foto bersama Filep Karma di kantor LBH Jakarta.
Mengabadikan momentum. Berdiskusi dan berkumpul dengan Bung Filep Karma adalah sebuah kegembiraan: kegembiraan politik.

Kami menyayangi Bung Filep, tentu karena dia berjuang. Perjuangan yang tak tanggung-tanggung. Pada Juli 1998 Filep Karma memimpin pengibaran bintang kejora di Biak, sebuah simbol kemerdekaan bangsa Papua. Berkah yang diterima setelahnya adalah dipukul, dibui, disiksa orde baru. 10 bulan mendekam di penjara. Empat hari setelah pengibaran bendera, tentara fasis Indonesia bersenjata lengkap menduduki Kota Biak 4 hari. Memuntahkan ribuan peluru. Lebih dari 100 orang pejuang demokrasi Kota Biak dibantai. Sisanya diburu. Hidup dalam pelarian.

September 2004, Filep Karma memimpin pengibaran bintang kejora kedua, sebuah simbol kebenaran sejarah bangsa Papua. Tentara fasis Indonesia kembali membantai rakyat bangsa Papua. 

Filep Karma, bersama kawan juangnya, Yusak Pakage, dipenjarakan rezim SBY selama 15 tahun, ditambah dengan penyiksaan. Suatu ketika, di awal penangkapan, Filep Karma dilemparkan di sebuah ruang bawah. Dia mempersiapkan diri menerima kesakitan karena dilempar. Tapi Filep heran, "kenapa empuk...?", pikirnya. Ternyata Filep jatuh di tumpukan mayat.

Bung Filep Karma tak pernah tanggung-tanggung berjuang. Tekadnya mendorong agar bangsa Papua merdeka begitu teguh. Dan kami punya kesempatan berdiskusi.

Sehat selalu, Bung Filep. Sehatlah selalu. Perjuangan masih jauh dari selesai. Rakyat sesama bangsamu diperlakukan bagai binatang. Merdekalah, merdekalah, kalian berhak atas kemerdekaan. Kami menyayangimu, Bung Filep. (BP)

Wa, wa, wa. .
.
Papua, merdeka!

PEMBEBASAN Bandung

Mari Berteman:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar