
Di Nizhny
Novgorod, kira-kira 400 kilometer sebelah timur Moskwa, pada tanggal 16 Maret
1868, Alexei Maximovich Peshkov dilahirkan. Nantinya, ia akan dikenal, atau
mengenalkan diri dengan nama Maxim Gorky—Maxim si Getir.
Ketika
berumur 5 tahun, Gorky ditinggalkan oleh orang tuanya, lalu hidup bersama
kakeknya, seorang pekerja, yang bersusah payah menyambung kehidupan di
Astrakhan. Keadaan yang sulit akhirnya membuat sang kakek memaksa Gorky kecil
yang masih berusia 8 tahun berhenti sekolah. Ia lalu bekerja sebagai tukang
cuci piring di kapal uap yang mengarungi Sungai Volga. Di situ, tak jarang
Gorky dibiarkan kelaparan, bahkan sampai dihajar oleh majikannya. Tapi, di
kapal itu pulalah Gorky belajar membaca dan mencintai buku.
Gorky
adalah orang pertama di Rusia yang menulis cerita dengan orang-orang
terpinggirkan sebagai tokoh utama—gelandangan, pencuri—yang berjuang dalam
kehidupan.
Kehidupan
di sekitarnya yang “keras, menjijikkan, dan kejam,” kata Gorky, bukanlah hal
yang nyata. Kenyataan hanya ada dalam buku. Di dalam buku, semua tampak jelas,
beralasan, indah dan lebih manusiawi. Membaca, bagi Gorky, adalah pelarian.
Sebuah usaha untuk lepas dari kejamnya kehidupan.
Ia lalu
melewatkan masa remajanya di Kazan, berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan
lain. Menjadi tukang roti, kuli angkut, dan menjadi penjaga pada malam hari. Pada
umur 21, Gorky mencoba melarikan diri, berusaha mengakhiri hidupnya dengan
menembak paru-parunya sendiri. Tapi, dunia ternyata belum siap untuk ia
tinggalkan. Gorky selamat. Ia lalu beranjak dari Kazan, berkelana selama kurang
lebih dua tahun, berkubang dalam sisi kehidupan yang lebih kelam, menjadi
gelandagan, mencuri, dan jatuh dalam dunia prostitusi.
Setelah
itu, barulah karir Gorky sebagai penulis dimulai. Ia bekerja sebagai jurnalis
untuk koran provinsi. Pada tahun 1892, cerpen pertama Gorky berjudul Makar
Chudra dimuat dalam koran Kavkaz. Gorky adalah orang
pertama di Rusia yang menulis cerita dengan orang-orang terpinggirkan sebagai
tokoh utama—gelandangan, pencuri—yang berjuang dalam kehidupan. Selain cerpen,
ia juga menulis novel dan lakon.
Tak lama
setelah itu, karya-karyanya mulai dikenal oleh masyarakat dan rumor tentangnya
didengar oleh Moscow Art Theatre sebagai “gelandangan dari
Volga yang piawai menulis”. Beberapa lakonnya, The Smug Citizen (1902), The
Lower Depths (1902), ditampilkan di sini. Gorky menyongsong pergantian
abad dengan tekun berkarya.
Beberapa
karya Gorky sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Sebut saja Pecundang dan Ibunda.
Judul yang disebutkan terakhir, telah diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer.
Jamak diketahui, Pram adalah salah satu sastrawan yang memperjuangkan mazhab
realisme-sosialis di Indonesia. Belakangan, Gorky disebut sebagai bapak dari
mazhab ini.
Dalam
kurun waktu penciptaan novel Ibunda, yang dalam bahasa aslinya
berjudul Matj itulah Gorky akrab dengan Marxisme. Lewat
karyanya, baik cerpen, novel, atau pun lakon, Gorky berusaha memberikan protes
terhadap dunia yang menurutnya “tak manusiawi”. Gorky menulis tentang
ketidakadilan sekaligus melawan dan mengecamnya dengan keras. Pada masa itu, ia
terlibat aktif dalam gerakan revolusioner. Dan nantinya, aktivitas politiknya
ini akan membuat ia keluar masuk penjara, dibuang, dan terpaksa
berpindah-pindah tempat. Menjadi seorang nomad sebagaimana masa mudanya.
Karya
sastra….harus ditujukan untuk “membantu manusia memahami dirinya sendiri,
memperkuat kepercayaan dalam dirinya, dan mengembangkan dalam dirinya daya
untuk berjuang menuju kebenaran”
Karya-karya
Gorky, selain diilhami oleh asam garam kehidupan, tentu juga dari bacaannya
yang luas. Sekali lagi, perlu diingat, Gorky adalah pencinta buku. Ia membaca
karya-karya—untuk menyebut beberapa—Tolstoi, Gogol, Dostoevsky, Griboyedov,
Chekhov, Isaak Babel, dan Leskov. Di luar karya orang Rusia, ia mengaku bahwa
ia tergugah, (amat) terpengaruh oleh karya-karya dari sastrawan
Prancis—Stendhal, Balzac, dan Flaubert. Gorky menyebut mereka adalah
orang-orang dengan kejeniusan yang tak dimiliki oleh pengarang Rusia
kebanyakan.
Karya
sastra, bagi Gorky, mesti ditujukan untuk “membantu manusia memahami dirinya
sendiri, memperkuat kepercayaan dalam dirinya, dan mengembangkan dalam dirinya
daya untuk berjuang menuju kebenaran”. Membangun rasa malu, memunculkan
amarah serta keberanian agar manusia menjadi mulia dan menjadi kuat.
Semangat
ini, ia dapatkan ketika pada akhirnya ia menyadari, bahwa selama ini ia
diintimidasi bukan oleh hidup, tapi oleh lingkungan sosialnya, oleh kegagapan
serta ketidak-berdayaannya dalam menghadapi itu semua. Gorky juga menyadari,
bahwa hal ini juga dirasakan oleh orang-orang tertindas yang ada di sekitarnya.
Pengoyakan luar dalam oleh borjuis pada kaum pekerja yang tertindas—inilah yang
mesti dilawan oleh dan dengan sastra; menyadarkan, dan menyerang tanpa ampun.
Di masa
muda, ketika belum cukup “tersadarkan”, Gorky mengatasi kekejaman dunia
dengan cara membaca. Ia tahu ada manusia yang lebih baik dan lebih kejam di
dunia ini dari buku. “Books were able to reveal to me something that I had
not seen or known in a man,” kata Gorky.
Ada masa
di mana Gorky menggunakan buku sebagai pelarian. Buku yang mampu menghadirkan
sebuah tatanan dunia yang lain; kehidupan indah dan damai, tanpa dipenuhi
kebengisan dan keserakahan. Buku sebagai jalan keluar tak menyakitkan, juga tak
memalukan. Tak perlu rasa sakit, tak perlu lubang di paru-paru.
Gorky,
pernah “dibutakan” dari realita kehidupan oleh buku.
Tapi ia
bisa sembuh.
Pada
akhirnya, sebagaimana kata Maxim Gorky, “Hidup, sebagai guru yang paling
tegas dan bijaksana, telah menyembuhkanku dari kebutaan yang amat membahagiakan
itu.”
_________
¹) Penulis adalah seorang pemikir yang mengubangkan diri
belajar formal di Universitas Telkom. Seorang pendaki yang ingin meloloskan
diri dari pengaruh absurditasnya Albert Camus. Belio juga punggawa PERIMATRIK.
Sekarang baru bergabung dengan PEMBEBASAN Kolektif Kota Bandung. Jangan tanya
status, sudah pasti belio jomblo yang tiap harinya ditelikung oleh obsesi
menunda sepi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar