Diskusi Umum Realisme Sosialis dan Estetika Marxis

Chandra membacakan puisinya berjudul percakapan mimpi dengan Karma
diringi oleh petikan gitar Syarif.
PEMBEBASANBDG. Jum’at sore dengan gerimis (30/09/2016), di Telkom University (Selasar FKB). Perpustakaan Apresiasi yang dipelopori oleh Bung Tri S. merupakan suatu komunitas dengan kerja, membuka lapak bahan bacaan dan barter buku untuk pinjam-meminjam, kali ini mengadakan diskusi terbuka untuk mengupas materi kesusasteraan/kesenian, dengan topik Realisme Sosialis dan Estetika Marxis, dengan pembicara Syarif Maulana  seorang musisi, dan juga merupakan seorang dosen di Telkom University, serta Mohamad Chandra seorang seniman teater dari ISBI.

Meski hujan terus mengguyur wilayah Telkom University, kondisi tersebut tidak menyurutkan kehendak khayalak umum untuk datang dalam acara tersebut, terbukti dengan terisi penuhnya ruangan tempat diskusi dilaksanakan, meski duduk hanya dibantali beberapa lembaran terpal yang menempel di lantai selasar FKB Telkom University itu. Setelah berdatangang audien, acara dibuka oleh saudara Kalim sebagai perwakilan dari panitia pelaksana, dengan ucapan selamat datang dan do’a sebagai ucapan rasa syukur kepada Tuhan yang maha Esa.

Kemudian acara inti dimulai, dan dimoderatori oleh saudara Afif, Mahasiswa UNPAS dan juga merupakan anggota Perpustakaan Apresiasi, menggiring saudara Chandra untuk membawakan materi terlebih dahulu. “Reaslisme sosialis merupakan bagian dari Estetika Marxis” ujar Chandra, oleh karena itu diskusi kali ini Chandra berfokus membahas konsep Realisme Sosialis secara teoritik, dan memaparkan bagaimana karya diciptakan dan dapat dikatakan sebagai aliran Realisme Sosialis.

Paling penting dalam diskusi, Chandra menjelaskan bagaimana convensi dialektika dalam seni, “Dialektika dalam seni, seni itu pemetaan realitas ya, bagaimana konsep seni itu berjalan, yak arena ada realitas” ujar Chandra, Chandra memaparkan terdapat empat realitas, realitas pertama adalah masyarakat, masyarakat dijadikan sumber inspirasi untuk terciptanya sebuah karya, oleh karena itu seorang seniman sebelum menciptakan suatu karya perlu terjun dalam masyarakat untuk mengetahui realitas tersebut.

Realitas kedua adalah realitas seniman atau dapat disebut realitas pencipta, ini menyangkut seorang seniman mentranformasikan ulang apa yang disampaikan dan ada dalam masyarakat, “jadi bentuk persentasi seni yang diciptakan, itu dikembalikan kepada seorang seniman itu sendiri” ujar Chandra. Dalam persepsi realisme sosialis, seorang seniman perlu mengangkat realitas yang terintegrasi dengan masyarakat bawah, sehingga gagasan politik atau gagasan sosial dalam masyarakat, musti terangkat dalam karya yang akan diciptakan.

“Realitas ketiga itu, yaitu realitas persentasi karya dan juga keberterimaan masyarakat terhadap karya seni itu” ujar Chandra, menurut beliau  realitas ketiga ini sebagai pra ideologi, sehingga suatu karya akan memilki bentuk dan arah. Kemudian realitas keempat adalah tahap pengujian, yang didalamnya pertama terdapat diagnosa gagasaan, sehingga dapat dinilai gagasan dalam seni dapat diterima atau tidak oleh masyarakat, kedua terdapat pemetaan arah politik, dalam realisme sosialis perlu terintegrasi dengan masyarakat kelas bawah. Sehingga menurut Chandra, dari keempat realitas ini akan menimbulkan proses dialektika antara karya dan masyarakat, yang menilai sejauh mana masyarakat menerima atau menolak gagasan-gagasan dalam suatu karya, namun yang lebih penting menurut Chandra, dalam realisme sosialis bagaimana pengambilan basisnya dan apresiaternya, sehingga terciptaknya karya harus mempertimbangkan pemahaman apresiaternya.

Pemaparan Candra mengenai konsepsi realisme sosialis dibahas begitu kompherensif dan beberapa kali Chandra menunjukan contoh karya-karya teater beraliran Realisme Sosialis. Setelah pemaparan Chandra berakhir, dilanjutkan oleh Syarif Maulana. Syarif menambahkan bahwa seni bukan hanya sekedar keindahan semata, seni itu harus memiliki tujuan dan musti diambil dari fenomena nyata dalam masyarakat, namun dalam seni perlu membedakan antara Realisme Sosialis dan Realisme Sosial. Menurut Syarif, Realisme Sosial itu kesenian yang hanya mengangkat realitas, sedangkan Realisme Sosialis bagaimana karya seni mengangkat gagasan sosial dalam masyarakat, itulah perbedaan mencolok antara realisme sosial dan Realisme Sosialis. Syarif juga beberapa kali memberikan contoh antara karya yang mengangkat realisme sosial dengan Realisme Sosialis dalam dunia perfilman. Contoh film Realisme Sosialis menurutnya, salah satunya Battleship Pottemkin, sedangkan yang realisme social misalnya sinetron dsb.

Pemaparan dari pembicara, pada akhirnya menuai banyak pertanyaan, seputar karya-karya Realisme Sosialis, pertanyaan yang unik dan menggelitik datang dari Linda, “adakah karya realisme sosialis yang mengangkat persoalan perempuan?”. Baik Chandra maupun Syarif hanya memberikan satu referensi karya yaitu karya Maxim Gorky, karena memang sangat jarang karya Realisme Sosialis yang mengangkat persoalan perempuan.

Pertanyaan Linda, jadi pertanyaan terakhir dalam sesi diskusi. Kemudian acara ditutup dengan pembacaan puisi yang berjudul Percakapan Mimpi dengan Karma, karya Mohamad Chandra, dibacakan sendiri oleh Chandra dan instrumen musik oleh Syarif. Penutup acara dengan pembacaan puisi menambah kesan yang mendalam acara diskusi ini, bagaimana tidak, pembawaan Chandra dalam membaca puisi ditambah lagi instrumen oleh syarif, menciptakan harmoni yang mengoyak dan menggugah kalbu, tepuk tangan dan sorak sorai pun berhamburan di penghujung acara.


(Dani Julio)


PEMBEBASAN Bandung

Mari Berteman:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar