
Kau riang bernyanyi-nyanyi, menari, mendongeng, saling membagi,
memilih tetua pendamai, walau bajak besi pun belum mampu kau gubah dan lembu,
kerbau, serta kuda tak ada untuk membantu mendorong kau ke dunia lain—dunia
kemakmuran berlebih dan menyatu dengan saudara-saudara kau yang lain dari
gemunung lain. Sampai saat itu, kau cukup saling mengasihi dengan alam dan
saudara-saudara senaungan alam yang segunung.
karena mereka bukan bangsa yang dikandung dan dilahirkan oleh cinta, mereka bangsa yang ditiup roh keuntungan, nyawa tamak, jiwa loba.
Dua bangsa yang datang dari kejauhan Barat—yang satu telah mampu berkuasa; yang satunya sekadar pendompleng—bukan untuk bercerita mengapa mereka sanggup menjadi tamu, bukan untuk berbagi bagaimana mereka mampu menjelajah menjadi tamu, berbagi bagaimana mereka bernyanyi, menari, mendongeng dan saling membagi, karena mereka bukan bangsa yang dikandung dan dilahirkan oleh cinta, mereka bangsa yang ditiup roh keuntungan, nyawa tamak, jiwa loba. Dua bangsa yang paham keindahan, kepuasan, karenanya suka ria mengambil banyak. Satu dua orang di antara mereka, yang berbekal kasih, tak berdaya, hanya mampu bercerita:
Tentang keindahan:
“Aku pelaut yang pernah berkeliling
dunia, mengabarkan bahwa Utopia itu tentang tak adanya penggunaan uang sebagai
alat bayar dan tiadanya milik pribadi. Di sana, emas tak berharga dan konsumsi
apa adanya, tak seorangpun menggunakan pakaian berlebihan. Setiap orang
menyerahkan buah-buahan hasil panenan, atau yang dicarinya di hutan, ke rumah
publik, setiap orang bebas memilih buah-buahan itu serta bahan kebutuhan
lainnya, untuk kebutuhan dirinya atau keluarga. Ekonomi yang sangat bersahaja.
Tak ada yang menimbun barang, tak ada seorangpun yang cemas atau khawatir
kelaparan.
Warga memilih pimpinannya, seorang
pangeran, namun juga memecatnya jika dianggap melanggar keputusan warga.
Pimpinan agama ditunjuk menurut pilihan warga. Penduduk Utopia membenci
peperangan. Walau demikian, mereka akan mempertahankan mati-matian batas-batas
negeri mereka. Agama yang mereka yakini tak digunakan untuk menyerang dan
membuat aib dengan alasan apapun juga, serta tidak juga menggunakan kekerasan
untuk membuat orang lain pindah keyakinan.
Dua bangsa mulai mengambil tanpa restu; maling! Dihelanya kau menanam tanaman yang tak pernah kau tanam, bukan untuk kau… Tanpa restu kau, tanah kau dimasukkan dalam surat warisan perjanjian, sebagai bangsa yang dijajah.
Mereka mempunyai hukum yang mengizinkan perceraian. Namun akan menjatuhkan hukuman berat kepada perselingkuhan. Dalam hukum di Pulau Utopia, setiap orang bekerja enam jam sehari. Kerja dan istirahat harus seimbang, dan warga saling berbagi waktu, seperti mereka berbagi meja makan. Masyarakat bertanggung-jawab penuh terhadap anak-anak kecil yang orang tuanya sedang sibuk bekerja. Warga atau orang yang sedang sakit mendapatkan prioritas pertolongan dan pengobatan khusus. Etanasia dijauhi. Taman-taman dan kebun-kebun buah-buahan memenuhi berbagai ruang dan lahan. Dan kita akan mendengar musik sejauh ke manapun kita melangkah.” (1)
Namun, satu dua orang tak berdaya,
sekadar mampu bercerita—bersetuju dengan kehidupan kau yang nyaman.
Dua bangsa mulai mengambil tanpa restu,
maling: bangsa pendopleng menyeret kau dan saudara-saudara kau ke utara negeri
kau (juga), mengenalkan laut untuk hidup kau, yang tak pernah kau hidupi,
dihelanya kau menanam tanaman yang tak pernah kau tanam, bukan untuk kau,
diberinya kau dua nama, nama untuk bergaul dan nama di hadapan Tuhan, nama-nama
yang tak punya arti, diberinya kau Tuhan baru, yang kau maknai Dewa pelindung
bangsa-bangsa maling, ditatanya kampung berumah pribadi; bangsa yang telah
mampu berkuasa mulai menata, mulai mengatur layak tidaknya hidup kau—karena
mereka bilang kau dan sudara-saudara kau adalah kumpulan orang-orang tak layak
hidup semaunya, kau dianggap kerak peradaban, kerak kebudayaan. Kini kau
tercengang, baru sadar ada saudara-saudara lain dari alam tetangga, dari
gemunung lain, yang didekatkan pada kau oleh bangsa yang sudah mampu berkuasa,
dan kau mulai bertanya: apa kah mereka saudara-saudaraku juga, yang hendak
disatukan dalam kebahagiaan. Pasti, bangsa penguasa pasti menetapkan: “Sebenarnya
ini tanah dan segala isinya—termasuk kalian—adalah milik kami; kami akan
bersusah payah membuat negeri ini, dan kalian cantik & indah; bekerja lah,
akan kami ajarkan kalian bekerja, kalian harus sabar dan kami harus sabar,
karena kalian memang belum layak bekerja seperti kami. “Bangsa penguasa juga
tak sungkan-sungkan membawa orang-orang untuk dihukum dan mati di tanah kau,
dinodainya tanah kau—mereka membawa orang-orang dari pulau lain yang rindu
MERDEKA. Dengan telak kini kau, untuk pertama kalinya, tahu: kejahatan; namun
sayup-sayup pun kau tak tahu apa makna MERDEKA, kau tak bisa bersama dengan
orang-orang buangan, orang-orang hukuman dari pulau lain. Belanda, bangsa yang
telah mampu berkuasa; Jerman, bangsa pendomplengnya.
Diperkenalkannya kau demokrasi bodong, palsu: bahwa kau diberikan kebebasan untuk berpendapat, memilih menjadi bangsa di antara dua bangsa yang bukan bangsa kau sendiri, tak ada pilihan ketiga: bangsa kau sendiri.
Sekonyong-konyong, ghalibnya orang-orang yang menyelundup masuk ke tanah kau, datang lah saudara-saudara orang-orang yang dihukum dan dibuang ke tanah kau. Sungguh, kau terbengong-bengong dengan sungguh-sungguh, saat saudara-saudara orang hukuman, orang buangan, meyakinkan kau: bahwa kau, sebenar-benarnya bangsa Indonesia; bahwa kau harus menjadi bangsa Indonesia, saudara timur bangsa Indonesia. Pertama kalinya juga kau mengenal apa itu bangsa, bangsa Indonesia, yang ujug-ujug dihadiahkan bagai kado oleh saudara-saudara orang-orang hukuman, orang-orang buangan, yang rindu MERDEKA. Orang-orang yang memberi kado bangsa meminta kau berjuang karena, katanya, bangsa yang dikadokan itu belum dilengkapi tanah dan lautnya sesuai dengan surat warisan perjanjian bangsa penjajah dengan bangsa dijajah. Tanpa restu kau, tanah kau dimasukkan dalam surat warisan perjanjian, sebagai bangsa yang dijajah. Diajarinya kau, anak-anak kau, isteri kau, orang tua kau, saudara-saudara kau perang kebudayaan—kebudayaan melawan penjajah—baca-tulis, bernyanyi sebagai bangsa, Indonesia Raya, berpakaian (hampir-hampir dipakaikannya kau kopiah, atau kebaya untuk saudara-saudara perempuan kau). Dan membiarkan perang fisik menjadi tanggungan orang-orang dari bangsa Indonesia yang baru setengah jadi. Orang-orang bangsa Indonesia bergairah melengkapi syarat bangsanya: bangsa Indonesia dari barat sampai ke Timur, dari Sabang sampai Merauke.
Ada juga orang-orang bangsa Indonesia
yang pandai bersahabat dengan laut yang, sejak dahulu, sejak belum berbangsa,
datang bertukar apapun dengan yang kau hasilkan, tanpa kau tahu untung kah atau
rugi kah, bahkan sering mereka tak bertukar tapi mengambilnya sendiri.
Kini kau mulai memaknai:
saudara-saudara kau yang lain dari gemunung lain dan dari laut, yang ada di
tanah selingkungan kau yang lebih luas, yang kini menjadi lebih dekat dengan
kau; penjajahan; kejahatan, merdeka, bangsa.
Kau dan saudara-saudara kau, yang telah memberi banyak dan menerima sedikit, dari yang sedikit itu kau dan saudara-saudara kau mampu memaknai dan bergairah mewujudkan: persatuan di antara saudara-saudara kau untuk MENJADI BANGSA MERDEKA, BANGSA PAPUA;
Diperkenalkannya kau demokrasi bodong, palsu: bahwa kau diberikan kebebasan untuk berpendapat, memilih menjadi bangsa di antara dua bangsa yang bukan bangsa kau sendiri, tak ada pilihan ketiga, bangsa kau sendiri. Dirayunya, diancamnya, dipenlintir lah suara kau dan saudara-saudara kau, hingga kini kau diresmikan oleh dunia sebagai: bangsa Indonesia.
Orang dari pulau lain, bangsa Indonesia, yang sekarang
telah menjadi pembunuh saudara-saudaranya sendiri, dibunuhnya
saudara-saudaranya sendiri hampir 3 juta banyaknya—berkali lipat seluruh jumlah
saudara-saudara-saudara kau. Mereka, bangsa pembunuh, datang berduyun-duyun
akan memenuhi tanah kau bagai bintang-bintang di langit, akan makan dari tanah
kau. Pimpinan-pimpinan, dan juga rakyat dari pulau lain itu, bangsa Indonesia,
tak bisa mengenali lagi makna penjajah (bahkan dirinya pun tak sungkan-sungkan
menjajah)—dibawanya kini bangsa Barat, bangsa Asia yang telah maju, bahkan
semua bangsa bila mau dibawa, ke tanah kau untuk dijamu semua panen alam tanah
kau, agar orang-orang dari pulau lain, bangsa Indonesia, mendapatkan
ceceran-cecerannya, termasuk kau. Kini kau dikadoi ceceran-ceceran itu. Semua
dapat ceceran-cecerannya dengan kadar sesuai dengan perannya: pemimpin-pemimpin
bangsa Indonesia, buruh-buruh bangsa Indonesia, calo-calo bangsa Indonesia,
polisi dan tentara bangsa Indonesia, maling-maling bangsa Indonesia,
saudara-saudara kau sendiri yang mengkhianati kau dan saduara-saudara kau
sendiri dan, terakhir, yang menerima paling sedikit, adalah kau dan
saudara-saudara kau yang setaraf.
Dan yang kau tahu tentang bangsa Indonesia adalah:
bangsa pembunuh, bangsa penipu, bangsa penyiksa, bangsa munafik, bangsa yang
memberi sedikit mengambil banyak dengan alat kejahatan.
Kau dan saudara-saudara kau, yang telah memberi
banyak dan menerima sedikit, dari yang sedikit itu kau dan saudara-saudara kau
mampu memaknai dan bergairah mewujudkan: persatuan di antara saudara-saudara
kau untuk MENJADI BANGSA MERDEKA, BANGSA PAPUA; dan BERNEGARA PAPUA BARAT.
SELAMAT!
Dan saudara-saudara sejati kau sedunia, yang penuh
kasih sayang, menamai kau, sebagaimana juga menamai mereka sendiri: kami yang
99%; dan yang menjahati kau dan saudara-saudara sejati kau dinamainya: mereka
yang 1%.
_________
* Diambil dari notes Facebook Danial Indrakusuma
** Catatan Kaki:
1. (Eduardo Galeano, Genesis, hal 61,
buku pertama trilogi Memory of Fire, diterjemahkan oleh Halim HD, diedit oleh
Danial Indrakusuma)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar