Semalam Bersama Petani




Foto : Nalarhati.files.wordpress.com
Malam jum'at, mungkin dianggap banyak orang sebagai malam mistis. Dan malam jum’at merupakan hari pertama saya tinggal bersama petani. Ini adalah keharusan yang diabsahkan dalam pendidikan yang sedang saya jalani. Mau gak mau, ya, mesti mau.

Baik saya akan bersenang-senang dengan cara yang berbeda kali ini. Akh sial! Gelap! Mati lampu di kampung ini, ada pemadaman bergilir, ternyata. Sampailah saya di rumah, bu I’i, diantarkan kawan saya. Pertama saya masuk rumah beliau begitu sepi hanya ada bapaknya saja. Dan tarattttt, lampunya menyala, tapi lampu yang digunakan pemilik rumah tidak secerah yang seperti biasanya. Lampu yang digunakan redup (remang-remang). Saya begitu terkejut dan kaget.

Ketika itu, saya berada di ruang tamu, hanya ada saya sendiri dengan si bapa. Hati saya bergejolak dan ingin menjerit "mamaaaaa.. Pengen pulang" dengan sesekali menitikan air mata. Tak lama kemudian, si ibu keluar dari kamarnya, saya bergegas menghampiri dan berjabat tangan (salam) tanda hormat saya kepada beliau. Tak lama kemudian, karena cuaca yang dingin, saya tidak kuat untuk buang air kecil. Ditunjukanya toilet dirumah si ibu kepada saya, saya sangat terkejut dengan keadaan ini. Toiletnya berada terbuka menyatu dalam ruangan dapur dan yang buat saya kaget lagi, toiletnya hanya sedada saya tingginya dengan atap yang menyatu bersama dapur. Saya mencoba menguatkan diri untuk membawa sikat gigi bersama odol didalam tas ransel saya di ruang tamu.

Setelah saya kembali ke dapur, Akhirnya, ibu I'i menyarankan saya untuk tidur dirumah anaknya, kebetulan rumah anaknya berada di belakang rumah ibu I'i karena bu I'i, mungkin tidak tega juga membiarkan saya tidur di ruang tamu di hamparan karpet dicuacanya yang begitu dingin. Lalu, saya mengiyakan untuk tidur di rumah anaknya. Setelah berkenalan dengan baik, saya diantar ke kamar anaknya, dan saya masih belum juga buang air kecil. Saya berharap semoga toilet anaknya lebih baik dalam artian lebih tertutup. Setelah saya izin untuk ingin ikut ke toilet, dia bilang, "Oh muhun teh, tapi wios air na di luar?" hatiku kembali berkecamuk dengan debar begitu cemas, semoga ini bukan pertanda buruk. Astaga! Dan ternyata toiletnya berada di pinggir kandang ayam dan domba, lagi-lagi aku ingin menjerit sekencang-kencangnya, dengan menahan rasa bau yang mengakibatkan saya hampir muntah oleh bau yang disebabkan kandang ayam. Tapi saya harus tetap menjaga sikap untuk tidak menyakiti perasaan si pemilik rumah. Di dalam toilet yang tingginya hanya sedada saya dengan atap awan. Setelah buang air kecil, gosok gigi dan cuci muka sambil nangis sejadi-jadinya, teriak-teriak di dalam hati, "pengen pulang".

Akhirnya, setelah saya masuk lagi ke rumah dan ganti baju dalam kamar, otak dan hati saya kembali berkecamuk, "setelah ini saya harus apa? ngapain? bagaimana cara membuka obrolan bersama mereka, saya gak mungkin langsung datang ke ruang tamu dan langsung sok-sok ikut nimbrung obrolan yang sedang mereka bincangkan.

Setelah semua mereda dengan obrolan yang mungkin sempat begitu ramai di ruang tamu. saya langsung menghampiri dan melanggengkan basa-basi, dan setelah ngobrol panjang dan waktu menunjukan pukul 21:13. Mungkin sudah sepatutnya beristirahat. Akhirnya saya pamit untuk tidur. Di dalam kamar, banyak pikiran yang ada di kepala saya, yang selalu saya pikirkan, "esok setelah terbangun dari tidur, saya harus apa? Dan percakapan yang seharusnya saya lontarkan apa?" karena malam itu pikiran saya pergi kemana-mana saya tidak bisa tidur, dan saya mengambil buku untuk menemani saya agar cepat tidur. Yha!! Cara itu berhasil.

Pukul 05:35 saya terbangun, dan saya tidak tahu harus keluar kamar seperti apa, canggung sekali sungguh, tapi kalau saya terus diam di dalam kamar ini sama saja dengan saya hanya pindah tidur. Baik, saya memberanikan keluar kamar. Setelah membuka pintu, aku melihat anak si teteh dan saya ajak ia untuk membuka sebuah percakapan.

Akhirnya, si teteh datang dan saya menyapanya lalu meminjam sapu, dan saya membantu membersihkan rumah dan setelah saya mandi, saya datang kerumah si ibu, dan ada anak kecil berumur 1tahun, namanya Rere. Aku sangat senang dengan cara ini, aku punya teman baru dan sibuk agar pikiranku dialihkan kepada Rere kecil cantik ini, dan semesta memberkati Rere anak kecil yang baik dan mudah untuk aku ambil hatinya dan gak rewelan. Rere ini cucunya bu I'i, Rere dititipkan karena ibunya bekerja di pabrik pagi hari, aku membantu memakaikan baju, menyuapi makan Rere dan mengajak dia jalan-jalan. Ah, Tuhan, terimakasih! Pikiranku terselamatkan karena Rere dari kesemerawutan apa yang harus aku lakukan pagi ini.

Setelah beberapa lama Rere dititipkan ke anaknya si ibu yang satunya lagi, dan saya membantu bu I'i pergi ke sawah. Jaraknya lumayan jauh. Setelah sampai di sana. bu I'i menceritakan bagaimana ia seharian harus menunggu sawahnya untuk memastikan tidak ada binatang yang mengganggu proses percepatan panen. Di sana saya melihat bahwa sebenernya para petani ini kreatif, dengan menggunakan tali rapia yang disambung-sambungkan secara paralel sepanjang sawah dan digantungkan botol-botol bekas, jadi kita hanya cukup menarik 1 tali rapia, tarik ulur seperti sedang bermain layang-layang dan berbunyilah botol-botol itu dengan 1 tarikan tali rapia. Tak kama kemudian, empat orang ibu-ibu beserta anaknya datang. Setelahnya saya tahu, bahwa mereka adalah saudara-saudara dari bu I'i dan mereka membawa banyak makanan.

Akhirnya kita makan bersama, yang dalam bahasa sunda dikenal dengan istilah "botram" tak lama kemudian saudara perempuan bu I'i ada juga yang baru datang, dan kita melanjutkan makan dibawah gubuk seadanya yang dibuat bu I'i beserta suami sebagai tempat berteduh dan untuk menunggu dan menarik tali rapia itu untuk menjauhkan padi dari burung-burung nakal. Setelah setengah hari berdiam lama di dalam sawah. Akhirnya, kami semua kembali pulang untuk beribadah. Mungkin karena kecapean, sesampainya di rumah anak bu I'i. Saya tertidur sebentar dan langsung berkemas, karena waktu saya di sini sudah selesai. Akhirnya saya pamit untuk kembali kedalam rangkaian pendidikan yang sedang saya ikuti.

Banyak sekali yang saya dapatkan dari keseharian bu I'i beserta anaknya walau saya tidak mendeskripsikanya secara detail dalam cerita ini. Saya tahu bagaimana ramah tamah, sopan santun yang ada dalam keluarga ini. Pelajaran dari bu I'i yang bisa saya ambil adalah untuk bertahan hidup, kita harus menjalani hari dengan tetap bekerja untuk menjadi mandiri/berdikari, merawat semangat, kasih sayang yang tulus, dan selalu berikhtiar dalam menjalani hidup.

Bandung, 3 September 2016



Penulis : Dwi Astuti


PEMBEBASAN Bandung

Mari Berteman:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar