![]() |
| Foto: Mongabay.co.id |
BANDUNG-Selasa (20/09/16) sore hari yang mendung ini di Gedung Indonesia Menggugat diselenggarakan diskusi buku berjudul “Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung” yang ditulis oleh Mohamad Sobary. Buku ini diangkat dari disertasinya yang berjudul “Perlawanan Politik dan Puitik, Ekspresi Politik Petani Temanggung.” untuk menyelesaikan program doktoralnya di Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia. Hadir sebagai pembicara: Mohamad Sobary (penulis buku tersebut), Hawe Setiawan (Budayawan), Haris Jauhari (Jurnalis Senior) dan Dede Mulyanto selaku moderator.
Acara dimulai dengan penampilan pantomim oleh Andy Sriwahyudi dan dilanjut dengan diskusi buku tersebut. Mohamad Sobary selaku pembicara pertama memulai pembicaraan dengan candaan yang membuatku dan seluruh orang yang ada di ruangan tertawa, ujarnya begini, “ketika saya mulai merokok kira-kira pada tahun 2010, saya merokok sambil mengumpat, biasanya pada saat mengerjakan sesuatu di ruang kerja di depan komputer. Pada suatu hari anak saya, tumben, masuk ke ruangan kerja saya, ketika saya sedang merokok sambil mengumpat-ngumpat, kemudian dia laporkan kelakuan saya itu ke istri saya. Sejak saat itu saya punya pendapat bahwa merokok itu berbahaya untuk kesatuan keluarga bukan berbahaya untuk kesehatan”.
Buku "Perlawanan Politik Dan Puitik Petani Tembakau Temanggung" ini menceritakan perlawanan petani di Temanggung merespon PP no.109 tahun 2012 yang isinya tidak berpihak kepada petani, dengan perlawanan yang ia sebut perlawanan Politik dan Puitik. “Perlawanan yang mereka gunakan itu dengan politik dan puitik, puitik kan tidak selalu dengan puisi, mereka menggunakan sesajen serta nyanyian Jawa untuk melawan, yang bila saya nyanyikan nyanyian Jawa ke orang Sunda akan membuat sedih orang sunda”, ujar Sobary. Seisi ruangan lagi lagi tertawa mendengar candaan Sobary, tentu saja orang Sunda akan merasa sedih jika diperdengarkan nyanyian Jawa, bukan karena benar benar sedih, melainkan lebih karena tidak mengerti.
Kemudian Sobary memaparkan contoh contoh peristiwa perlawanan politik dan puitik yang ia maksud, ujarnya, "Ketika peraturan tersebut disahkan pada bulan desember tahun 2012 dari situlah petani dan orang yang tidak setuju dengan peraturan tersebut melawan, mereka melawan dengan berbagai cara, misal dengan mengadakan acara tumpengan yang berwarna hitam yang memiliki arti perlawanan. Acara tersebut dihadiri banyak orang tidak hanya dari satu atau dua desa saja. Acara-acara seperti inilah yang meningkatkan semangat perlawanan mereka, yang menurut saya berarti pendekatan dengan mitologi itu penting untuk digunakan,”
Setelah sebelumnya bulan april, sebanyak 10.000 petani tembakau berkumpul di lapang bola Desa Maron, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Temanggung tepatnya kamis, 26 April 2012. Mereka berkumpul dan mengisap rokok keretek bersama-sama. Para petani tersebut berkumpul untuk merayakan deklarasi berdirinya “laskar keretek”, sebuah perkumpulan petani sebagai sarana perlawanan terhadap rancangan Rencana Peraturan Pemerintah (RPP) Anti Tembakau tahun 2009. Selain mengisap keretek, mereka juga menata sesajen serta melakukan doa dengan kidung-kidung dan nyanyian Jawa.
Setelah Sobary selesai berbicara, kemudian disambung oleh Hawe Setiawan, menurutnya, ”Yang menarik buat saya dari perlawanan kaum tani di Temanggung ini yaitu mereka menggunakan budaya dan mitos-mitos setempat sebagai alat perlawanan”.
Lain halnya dengan Haris Jauhari, menurutnya, "Mengetahui sebuah buku berarti mengetahui orang yang menulisnya juga. Disertasinya yang nyeleneh adalah gambaran dirinya yang nyeleneh pula. Masa isi pembukaan dari disertasi menggunakan puisi seperti asap mengepul dalam gumpalan-gumpalan lembut menyatu dengan kabut pagi yang turun dari puncak gunung Sumbing. Kan lucu hehe”. Namun, di samping kenyelenehannya, menurut Haris, Sobary adalah orang yang sangat jenius, tidak hanya itu, menurutnya juga, Sobary tidak saja fokus memajukan teori melainkan juga ikut berpraksis mendorong perubahan yang nyata, dengan cara berdiri bersama Rakyat di barisan Rakyat yang melawan.
Apip Bastard

Tidak ada komentar:
Posting Komentar